aku ikhlas, cum! for sure!


Yani Handayani : cumiii,, kenapa siih aku alergi sama kamuhh?! Padahal aku sangat menyukaimu.. =’(

Iyaappp, ada yang pernah liat update-an status gue beberapa waktu lalu?! Itu dia yang gue posting di status facebook gue selama beberapa hari kemarin. Kalo boleh sedikit melacur (melakukan curhat) disini, gue mau cerita sedikit nih tentang sebab musabab kenapa gue pasang status FB kaya begitu. Jadi gini, gue pribadi adalah seorang yang tergila-gila sama yang namanya sea food, terutama sama cumi dan udang. Syukur Alhamdulillah gue pun tidak memiliki alergi terhadap kedua jenis makanan itu. Namun, takdir berkata lain. Waktu minggu lalu gue makan cumi balado buatan emak gue tersayang, ternyata hal itu meninggalkan efek yang tidak nyaman di badan gue. Gak berapa lama setelah gue melahap cumi-cumi yang tak berdaya di atas piring itu, badan gue langsung merah, bentol, plus gatel. Hiikksss….

Awalnya gue pikir itu bentol biasa, tapi lama-lama nyokap gue bilang kalo itu alergi. Mendengar itu gue langsung gak terima, gimana bisa coba badan gue bentol-bentol gara-gara makan cumi, kan gue gak punya alergi cumiiii..???? Dan satu hal yang gue sesalkan adalah cumi itu kan salah satu makanan kedoyanan gue. Rasanya bener-bener gak nyaman, badan gak bersahabat padahal gue seharusnya udah mulai mem-bolak-balik fotokopian nyicil belajar buat UTS (hahaa,,alesan aja sih ini mah).  Selidik punya selidik, usut punya usut, ternyata cumi yang waktu itu gue makan merupakan cumi species (entah apa) yang memang gak bisa diterima di badan gue. Bentuknya besar dan kekenyalannya cukup tinggi. Dari situlah nyokap gue melarang gue untuk mengkonsumsi cumi dalam beberapa waktu kedepan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Dan emang dasar orangnya itu gue, warning dari nyokap gitu pasti gue tepatin sebisa yang gue mampu. Bukan mau jadi anak yang sok-sok-an berbakti sama orang tua nih, tapi gue memang tipikal pribadi yang gak berani macem-macem sama kata-kata dari nyokap.

Beralih dari cumi ke pembelajaran yang gue dapet dari insiden cumi berbahaya itu. Dari situ gue belajar bahwa, ketika kita menyukai (atau mencintai) sesuatu (atau seseorang), dengan awalnya baik-baik saja, lantas kemudian jika hubungan itu berubah karena satu dan lain hal menjadi hubungan yang memberikan efek negatif bagi pribadi masing-masing, jika hubungan itu bukan lagi memberikan perlindungan tapi ketidaknyamanan, jika hubungan itu justru membatasimu dan mengkotakkan kamu, atau bahkan jika hubungan itu mematikan karaktermu, maka sudah saatnya hal itu dipikirkan kembali. Sama seperti kasus cumi tadi, dengan kesadaran penuh, gue memilih untuk  menghindari konsumsi cumi, karena gue tau kalo gue makan itu maka gue bakal alergi (sakit). Meski awalnya berat merubah kebiasaan itu, namun yakin deh time will heal, meski mungkin cukup memakan waktu yang tidak sebentar. Gue harus ikhlas menjauhi si cumi, karena gue tau alasan utamanya kenapa gue harus melakukan itu. Memang sih meng-ikhlas-kan si cumi gak seberapa sulit dibanding sama meng-ikhlas-kan sesuatu (pasangan). Tapi balik lagi deh coba liat alesannya, dan kita akan tau betapa mudahnya meng-ikhlas-kan itu semua.

 

 

***Letting go is easy, as long as you know what the reasons behind.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: