baja pilihan Pak Eddy ;)


Kuliah Sistem dan Prosedur Perpajakan oleh Bapak H. TB. Eddy Mangkuprawira, SH, kamis 30 April 2009.

Hmm, memang awalnya malesss banget rasanya ikut kuliah pagi2 di kamis cerah ini. Bawaannya ngantuuukkkk bangetttt, soalnya udah beberapa malam berturut-turut gue kurang tidur. Meski dengan kondisi mata yang gak bisa diajak kompromi, gw tetap duduk sok2 manis dengerin kuliah Bapak Sang Ketua LBHPI ini. Okeiy, cukuplah soal deskripsi pagi indah di ruang H103 FISIP UI tercinta ini. Yang gue pelajari dari kuliah berdurasi 2,5 jam nonstop ini gak cuma tentang masalah keberatan, banding, penyidikan, pemeriksaan, dan segala seluk beluk perpajakan. Dari kuliah yang disampein sama “si Abah” ini gue belajar bahwa hidup ini begitu beraneka sampai kita selalu saja dihadapkan dengan pilihan. Contoh yang paling gue inget waktu Pak Eddy cerita tentang keputusannya untuk operasi kakinya beberapa tahun lalu. Beliau memilih melakukan operasi itu demi kesembuhannya, meski dengan beberapa pertimbangan yang tentunya tidak mudah. Meski kemungkinan kegagalan di depan mata, dengan segenap keyakinan Beliau memutuskan untuk melakukan operasi tersebut. Dan meski setelah itu Beliau membutuhkan proses recovery yang tidak singkat, pilihannya telah membawanya kini ke kenyataan bahwa Abah asal Banten ini kini berdiri menyampaikan materi matakuliah SisDur di setiap minggunya yang indah.

Kenapa gue bilang “di setiap minggunya yang indah”?

Karena di setiap minggunya Beliau bertemu dengan wajah2 seriosa (yang juga dangdutan) di kelas tempatnya melakukan sharing knowledge. Gue inget waktu Beliau bilang “saya paling suka ngajar di reguler, karena anak-anaknya yang seriosa. Ibarat mau bikin pisau atau pedang, mereka itu adalah baja pilihan.”

Huaaa, begitu denger kata-kata itu dari seorang mahaguru yang udah banyak mencetak generasi terbaik bangsa, gue jadi senyum-senyum sendiri. He called us “baja pilihan”. Dengan embel2 frase baja pilihan itu semoga saja tentunya dapat dihasilkan pisau yang berkualitas baik dan mampu memenuhi fungsinya sebaik mungkin. Dan yang namanya baja, meski sebaik apapun kualifikasinya, perlu proses panjang dan tidak mudah sampai bisa jadi pisau dan digunakan buat motong daging. Semakin baja itu ditempa panas, semakin baik pula hasil mata pisaunya. Sama seperti kita. Boleh saja kita disebut “baja pilihan”, tapi proseslah yang akan menentukan akan jadi pisau yang bagaimana kita nanti. Mungkin banyak hal memberatkan yang bergayut dalam langkah kita di bangku universitas ini, tapi itu semua semoga tentunya dapat semakin menguatkan kita. Tugas-tugas yang kita anggap cobaan, makalah yang kita anggap ujian, serta UTS dan UAS yang kita anggap mimpi buruk, semoga saja dapat semakin menempa diri kita untuk jadi lebih dan lebih baik lagi.

Teman-teman seperjuanganku,

Tetap semangat ya menjadi “baja pilihan” yang ditempa setiap hari….

*sayang Fiskal B 2006….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: