bajingan kok bangga!


Kamis, 19 November 2009

Lazimnya pada kamis di setiap minggunya, hanya ada satu mata kuliah yang aku ambil. Pagi. Jam 8 hingga 10.30. Selesai kelas, aku lekas mengambil langkah cepat untuk segera meninggalkan Depok, yang sering kusebut Kota Perjuangan. Selain memang urusan tetek-bengek di kampus sudah beres, aku memang ada urusan lain di luar. Seperti biasanya juga, aku memanfaatkan jasa public-transportation T-19 jurusan Depok – Kampung Rambutan. Aku duduk di belakang Pak Kusir yang sedang bekerja (uuppss,, di belakang bangku supir maksudnya, hhee).

Suasana yang sejuk (plus aku yang memang punya penyakit kantuk akut), membuat mataku lama-lama kiyep-kiyep tersapu belaian angin. Sampai akhirnya aku tersadar, di depan sana, si Supir dan seorang pria dewasa di bangku depan, terdengar asyik mengobrol. Awalnya aku merasa terganggu, gileee orang mau tidur bentar ada aja sih gangguannya! Tapi yang semakin membuat aku terganggu adalah content dari obrolan mereka berdua yang lamat-lamat terdengar di telingaku. Angkutan umum itu tidak banyak memuat penumpang, sehingga percakapan dua pria di depan itu bisa dengan bebas dan tanpa permisi masuk ke telingaku. Tanpa bermaksud mencuri dengar, aku pun dapat menangkap dengan amat sangat baik isi percakapan mereka.

Pembicaraan mereka berawal ketika ada salah seorang anak laki-laki berseragam SMP masuk dengan jari terselip sebatang rokok putih. Awalnya aku dengar si supir dan penumpang pria di sampingnya memperlihatkan keprihatinannya atas pemandangan itu. “anak zaman sekarang,mau jadi apa nanti?” Si anak SMP itu kayaknya nggak merasa diomongin, karena dia duduk di bagian pojok. Sementara aku, amat sangat dapat mendengar obrolan dua pria paruh baya tersebut. Kemudian percakapan itu berlanjut seru. Penumpang pria yang duduk di depan itu berbagi cerita dengan si supir, seolah mereka adalah teman lama yang telah sekian tahun terpisahkan oleh jarak dan waktu. Akrab. Dan open.

Lagi lagi aku terusik dengan isi pembicaraan mereka. Teramat sangat terusik. Dengan mata terpejam, aku medengar semua percakapan mereka. Dalam hati, diri ini merutuk. Bagaimana tidak, dengan jelasnya aku mendengar bahwa si Pria tadi bercerita tentang pengalaman masa mudanya [hingga sekarang mungkin]. “Yaahh,kita sama-sama tau aja lah. Dulu juga pernah jadi anak-anak, pernah nakal juga. Nggak suci lah kita-kita ini orang. Bahkan ada yang lebih dari kita. Yah, bisa dibilang bajingan lah.”

Pernyataan itu ditanggapi dengan santai oleh si Supir. Dengan nada tandingan malah, si Supir menimpali bahwa dirinya juga punya pengalaman-pengalaman ‘nakal’ selama di Jakarta.” Dalam percakapan selanjutnya, aku jadi tau kalo ternyata si Supir itu merantau ke Jakarta seorang diri, dengan meninggalkan anak dan istrinya di Padang.

Sesekali tawa mereka pecah. Aku dengar statement yang lebih mengganggu pendengaranku. Penumpang pria yang duduk di samping Supir itu mengeluarkan pengakuan yang bisa dibilang rendah. “Bahkan ni, Pak, saya pernah ‘ngerampok’ perempuan. Tetangga saya dia, udah punya suami juga. Blablabla…”, sampai aku tidak bisa melanjutkan deskripsi apa yang aku dengar waktu itu karena terlalu, yah begitulah.

Nada kebanggaan jelas terdengar dari suaranya.

Sungguh memprihatinkan.

Bajingan kok bangga!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: