your best-shoes [PART II]


Jumat, 4 Desember 2009

Jadwal di hari jumat ini cukup menarik dibanding dengan jumat biasanya. Kuliah pengganti Seminar Pajak yang seharusnya hadir pada pukul 13.30, kemudian molor hingga jarum jam menyentuh angka 14.30. Tapi hal ini sama sekali tidak terasa menjemukan untukku. Bagaimana tidak. Seusai kuiah ini, di sore harinya, aku berniat bertemu dengan teman 3M-ku. Senang sekali rasanya mengingat akan segera merealisasikan kegiatan rutin kami, mentor mall-to-mall. Terbayang sudah betapa serunya cerita yang akan dibagi, karena sejujurnya kami sudah lama sekali tak berjumpa.

Namun, suasana sore itu cukup menguji tingkat kesabaranku. Hujan besar pun datang. Ditambah dengan beberapa pesan dari kawanku yang menyatakan bahwa mereka akan datang terlambat. Hufh, rasa-rasanya ingin sekali aku meng-cancel jadwal pertemuan ini. Tapi tidak, masih ada jalan menuju Roma. Seorang daily mates-ku, bersedia menemaniku menunggu teman 3M-ku. Iya, si Putri Hijau ini rela menemaniku merapatkan kaki ke sebuah public interest di jajaran Jalan Margonda. That’s why i love her so much, thank youuu, uut!

Dengan sentuhan wet-look akibat hujan yang sempat menyapa, aku dan Putri Hijau menikmati sore itu dengan santai (dengan maksud mengeringkan baju, hhihi). Naik dari eskalator satu, kemudian turun di eskaltor lainnya. Memasuki jajaran tenant yang satu ke yang lainnya, meski hanya untuk memanjakan mata, karena di masa-masa ini bukan saat yang tepat untuk membiarkan penghuni dompet keluar dari peraduannya.

Spot wajib kunjung di setiap kesempatan jalan bareng Putri yang satu ini adalah tidak lain dan tidak bukan, COUNTER SEPATU! Ku akui, selera beralas kaki kami memang 99,9% sama. Dengan karakteristik kaki yang kecil dan ramping, kami selalu jatuh hati pada model sepatu yang tidak pernah jauh dari kesan cewek. Window shopping macam begini boleh dibilang obat mujarab buat mengusir sedikit penat selama beberapa waktu. Hhahhaaa…

Asik mencoba-coba melempar manggis, upps, maksudku ketika asik mencoba beberapa model sepatu, aku mendapati temanku Si Pecinta Hijau ini tengah mencoba sebuah top-toe berwarna coklat berpadanan antara muda dan tua. Warna yang masuk kategori menawan hati buat kami berdua. One credit. Tapiii, setelah kaki si Putri Hijau ini menjajal sepatu tersebut, Tuan Putri nampak sedikit gusar. “Yah, sayang banget nih depannya kotak gini. Aneh. Gue nggak suka yang kaya gini, padahal warnanya bagus, heels-nya juga nyaman,” kata Jeng Uut sambil sedikit merengut. “Lagian kenapa siih pake ada yang dibikin kotak kaya begitu, kan aneh?” lanjut Jeng Uut.

Tanpa ba-bi-bu, aku beralasan. “Karena nggak semua orang kakinya sama kayak kita, Ut.” Ia pun membenarkan pernyataanku. Menerima tanggapanku.

Kami bisa saja nyaman dengan sepatu top-toe, yang memang favorit kami. Bahkan justru kami kurang nyaman jika harus memakai sepatu sports sebagai alas kaki. Sebaliknya juga demikian. Ada beberapa orang yang memang sudah sejiwa-seraga dengan sepatu sports. Dan atau tidak tahan dengan sepatu-sepatu macam sepatu cinderella. Kembali lagi, semua tergantung pribadi masing-masing.

Kalau boleh dipersamakan dengan pasangan, kurang lebih begitulah. Bisa saja aku menyukai dan nyaman dengan pasangan yang mempunyai karakteristik super care, tapi tidak yang posesif. Atau malah kamu, yang menganggap posesif sebagai bentuk dari perwujudan rasa sayang.

*depends on who you are…!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: