The Art of Waiting, PATIENTLY…


The art of waiting, PATIENTLY…

Dalam hidup ini, kita tidak pernah bisa bermain – main dengan waktu. Ya, sang waktu memang terus berputar searahnya jarum jam, tanpa perlu kendali. Yang ada hanyalah kita terus berjalan mengikuti kemana bergulirnya sang waktu hingga mengantarkan kita pada saat – saat yang kita alami di setiap detik hidup yang kita jalani ini. Namun waktu juga bisa jadi kawan yang lebih dekat kok dengan kita, bahkan menjadi sahabat terbaik, meski di saat – saat pelik. Misalnya, ketika kita merasakan kekecewaan yang teramat dahsyat [apa pun bentuk dan rupanya], kadang jalan terbaik untuk melewati semua hal pahit itu cuma satu, berkawan dengan Sang Waktu. Time will heal, baby. Agree?!

Bicara soal waktu, mungkin bagi sebagian pihak ada yang berpandangan bahwa waktu adalah uang. Ya, hukum ini tentunya berlaku bagi para pebisnis, eksekutif, dan orang – orang penting pemangku jabatan strategis lainnya. Bagi mereka, tidak ada waktu yang boleh dibuang sia – sia, sedetik pun. 24h/7d bagi mereka harus dimanfaatkan sebaik mungkin tanpa ada satu jeda waktu pun yang kosong untuk hal – hal tidak bermanfaat. Kecintaan pada waktu membuat mereka mempunyai kecenderungan untuk tidak mentolerir satu hal, MENUNGGU.

Hmm, menunggu bisa jadi bukan hanya dibenci oleh para penggiat waktu, tapi juga kita pribadi. Nggak perlu nge-les deh kalo memang sebagian dari kita amat sangat menghindari yang namanya MENUNGGU. Saya juga demikian. Amat sangat tidak betah dengan situasi yang mengharuskan saya untuk menunggu. Apa pun. Tapi nyatanya, kondisi menunggu seringkali menghampiri saya. Banyak sekali, misalnya, menunggu panggilan magang, menunggu akhir bulan [buat gajian], menunggu bis, menunggu kawan/klien datang ke tempat janjian, menunggu antrian [dokter, tiket bioskop, lift, dsb], atau mungkin menunggu seseorang. *Eheemm, sounds familiar with this situation!

Dari sekian banyak contoh sikon yang mengharuskan saya untuk menguras waktu dengan menunggu, belakangan ini saya mencoba lebih dalam memaknai setiap detik yang saya lewati dalam menunggu. Saya mencoba melihat apa – apa yang sebelumnya belum bisa terlihat, mencoba merasakan apa – apa yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Amazing. Saya melihat banyak hal berarti dalam setiap detiknya saya menunggu, banyak merasakan sensasi perasaan yag tidak terduga ketika menunggu. Tentunya lebih dari sekedar gerutu bahwa ‘SAYA BENCI MENUNGGU!!!’

Ketika saya menunggu kepastian panggilan magang yang paling sreg dengan hati saya, saya terus berusaha mencari tempat magang lain yang masih memungkinkan. Hingga waktunya datang yang membawa saya ke tempat magang yang paling nyaman untuk saya. Saya tidak cuma menyandarkan nasib pada menunggu panggilan magang yang saya inginkan, saya tetap terus me-apply ke tempat lain, hingga akhirnya ada kepastian. Saya bersyukur telah menunggu kepastian itu, dengan tetap melakukan pencarian lainnya. Dengan saya melakukan usaha lainnya sembari menunggu sebuah kepastian dari Bapak di balik meja sana, saya puas dengan usaha saya. Saya tidak penasaran lagi dengan tempat – tempat lain yang saya datangi, karena saya sudah mencoba dan tahu hasilnya. Ketika menunggu disini, kita bisa berupaya lain, sekeras dan semampu kita, hingga KEPASTIAN itu datang.

Ketika saya [dan kalian] menunggu akhir bulan untuk menerima balas jasa atas pekerjaan yang telah kita lakukan, banyak hal yang bisa kita kerjakan. Sambil menunggu tanggal sakti per bulannya itu, seyogyanya kita melewati hari – hari pekerjaan kita dengan penuh semangat. Overtime dan semacamnya bisa jadi merupakan salah satu cara kita untuk membuahkan hasil terbaik dalam pekerjaan kita, sehingga imbalan akhir bulan akan terasa lebih manis [dengan tambahan uang lembur tentunya, hhehe). Ketika menunggu suatu hasil terbaik, berusaha yang terbaik bisa jadi resepnya.

Ketika saya menunggu bis, di halte misalnya. Hiruk pikuk kendaraan di depan mata kita bukan pemandangan yang aneh dan jadi santapan sehari – hari, pagi-siang-sore-malam. Hingga datangnya bis yang akan membawa kita ke tempat tujuan, lalu lalang kendaraan beroda lainnya pasti menyemarakkan gambaran sejauh mata memandang. Selagi itu, kita bisa melihat perputaran roda kendaraan diatas aspal hitam. Ya, roda yang berputar. Pernahkah kita analogikan perputaran roda itu sebagai perjalanan hidup?! Kadang di atas, kadang di bawah. Apa  yang kita lihat tadi mengajarkan the way life is. Dan tentunya, putaran roda yang ada di atas lah yang kita inginkan adalah tempat kita. Untuk itu, tetaplah menjaga posisi kita masing – masing, sebaik mungkin. Ketika menunggu disini, perhatikan bahwa tidak selamanya mata dapat menangkap pemandangan indah, melainkan hati yang berperan.

Ketika menunggu kawan/klien ke meeting point, mungkin rasanya ingin segera membunuh waktu agar yang ditunggu segera tiba, saat itu juga. Coba manfaatkan setiap detik yang kita lewati ketika menunggu mereka. Untuk si teman, coba kita pikirkan hal – hal apa yang akan kita tanyakan kepadanya sebegitu ia datang. Misalnya hal – hal yang tidak bisa dilakukan via telepon, pesan singkat, atau fitur connecting di jejaring sosial. Dan untuk menunggu si klien, coba perdalam lagi materi yang akan kita bahas bersama. Ketika menunggu disini, kita bisa menyiapkan hal – hal ‘lebih’ untuk memaksimalkan pertemuan itu.

Ketika menunggu antrian panjang hingga tiba giliran kita, cobalah posisikan diri sebagai orang lain yang sama – sama ada dalam antrian itu. Kita sering sekali mengatasnamakan kesibukan kita sebagai tameng bahwa menunggu antrian ini sangat menyebalkan dan membuang waktu. Padahal kan yang sibuk bukan kita doang, orang – orang yang berada dalam antrian itu juga punya kegiatan masing – masing kok. Kita satu tujuan dengan mereka, namun dalam kondisi yang berbeda. Bisa jadi ternyata kita yang lebih beruntung dari mereka, misalnya ada seorang ibu hamil tua yang menunggu antrian panjang lift, toh kita yang cuma berbadan tunggal dan masih energik lebih kuat kan dari si ibu tadi. Hendaknya kita tidak memonopoli keadaan dengan mendramatisir antrian yang ada, akan ada gilirannya juga kok untuk kita. Ketika menunggu disini, yakinlah bahwa yang dilanda keharusan untuk menunggu itu bukan kita semata wayang, masih banyak dan banyak lagi.

Dan [mungkin] ketika menunggu seseorang, seringkali kita merasa itu hanyalah pekerjaan sia – sia layaknya mencari jarum dalam jerami, belum tentu ketemu juga kaan itu jarumnya. Ketika kita sudah tau ada hal indah setelahnya, maka menunggu bukanlah suatu pertaruhan yang berat. Kembali lagi, mari kita berkawan dengan Sang Waktu. Di sela penantian [yang mungkin panjang], banyak hal yang bisa kita lakukan dan rasakan. Self-improvement tentunya. Menunggu akan hadirnya, kita bisa memfokuskan diri pada hal yang urgensitifitasnya lebih utama untuk beberapa saat ini. Menunggunya, membuat kita tau bagaimana rasanya jika raga tak berada pada satu belahan bumi yang sama, hanya ada rindu terasa. Ketika menunggu disini, kita bisa tau bahwa sesuatu yang indah akan dihadiahkan Tuhan untuk kita, pada waktunya tiba.

And I call it, the art of waiting, PATIENTLY….

*buah dari sabar itu manisss, lhoo…*

*amiiinnnn!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: