merenung pas lebaran?! kenapa enggak!


10 September 2010 yang lalu, umat muslim merayakan hari kemenangannya setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Ya, LEBARAN.

Libur lebaran tahun ini, saya dan keluarga menghabiskan waktu di kampung halaman ibu di Arjawinangun. Sebuah bagian kecil dari kota Cirebon yang punya banyak kenangan tersendiri di hati saya, kota kelahiran saya 22 tahun silam.

Tradisi lebaran di keluarga saya dari tahun ke tahun nggak berubah. Liat ke meja makan, penuh dengan ketupat beserta kawan – kawannya yang bersantan. Tradisi sungkem yang menguras air mata pun tetap selalu khidmat kami sekeluarga jalankan. Salam tempel dimana – mana. Kue – kue cantik penghias ruang tamu. Serta tradisi ziarah kubur mendoakan keluarga tercinta yang telah dipanggil Yang Maha Kuasa.
Lebaran memberikan refleksi bagi masing – masing sebagai individu. Saya pribadi, merenungkan suatu fenomena yang dapat saya amati.

• Dari tahun ke tahun, tradisi sungkeman semakin panjang antriannya. Ada anggota keluarga yang bertambah. Suaminya ini lah. Istrinya si itu. Anaknya si ini. Calon-nya si itu.

• Dari tahun ke tahun, tradisi ziarah kubur semakin panjang rutenya. Buyut, kakek, mbah sini, mbah sana, dan seterusnya.

Satu hal yang saya pahami. Ada yang datang, ada juga yang pergi.

Nggak mau?

Memang begitulah adanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: